Tak Sesuai Ongkos Tanam dan Pemeliharaan, Panen Tahap Pertama Diiringi Tangisan Petani

  • Bagikan

OKU Timur – Meteorsumatera

Seharusnya panen tahap pertama tahun 2021 ini disambut bahagia dan suka cita oleh petani. Ternyata disambut “tangis” oleh petani di Kabupaten OKU Timur mengingat meningkatkan ongkos tanam dan pemeliharaan tanaman padi yang tidak sebanding dengan harga gabah jual murah termasuk juga harga jual beras begitu murah, petanipun meradang.

Saya dan petani lain tak bisa berbuat banyak hanya bisa pasrah, jangankan berpikir meraih untung kembali modalpun sudah syukur Alhamdullilah, ironisnya lagi petani kesulitan untuk memasarkan hasil panen mereka walaupun dengan harga terbilang murah, demikian dikatakan Gito, 44 tahun petani petani asal Buay Madang Kabupaten OKU Timur, Sabtu 20 Maret 2021.

“Pupuk bersubsidi saat musim tanam sangat susah kami dapatkan, jadi kami terpaksa membeli pupuk non subsisdi dengan harga tinggi. Saat ini harga gabah kering hanya diangka 3000 rupiah perkilo sedangkan harga beras hanya 7000 rupiah perkilo. Bahkan dengan harga semurah itu kami para petani masih kesulitan untuk menjualnya,” ungkapnya murung.

Menyikapi permasalahan beras dan gabah murah pada saat musim panen saat ini, Azmi Shofix, Anggota DPRD Provinsi Sumatera Selatan dari fraksi Demokrat angkat bicara.

“Seharusnya negara hadir menyikapi permasalahan petani. Kasihan petani, pejuang ketahanan pangan kita, dikala musim tanam mau cari pupuk saja susah dan mahal, di waktu musim panen harga beras dan gabah murah bahkan sulit menjual,” ucapnya.

Anggota DPRD Sumsel termuda ini menuturkan, menurut Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 24 Tahun 2020 menyebutkan bahwa dalam rangka pelaksanaan pengelolaan cadangan pangan pemerintah untuk gabah atau beras ditetapkan bahwa HPP (Harga Pokok Pembelian) pembelian Pemerintah di Gudang Bulog adalah Rp 8.300,- per Kg.

“Saya kira jelas negara harus hadir. Daripada memenuhi stok cadangan pangan nasional melalui impor yang digadang-gadang akan dilakukan sebesar 1 juta ton, maka saat ini lebih baik menyerap beras petani lokal kita yang sedang panen raya dan harganya jatuh,” tegasnya.

Lebih lanjut Anggota DPRD Sumsel Komisi dua ini berkomitmen akan mendorong Pemda (Kabupaten & Provinsi) untuk berkolaborasi dan bersinergi dengan BULOG untuk menyerap hasil petani OKU Timur.

“Kita ketahui bersama bahwa saat ini harga beras di tingkat petani berkisar di angka Rp 6.500,- s.d. Rp 7.000,- per Kg, sangat murah. Bulog harus membuka keran pengadaan sebesar-besarnya untuk menyerap beras Cadangan Beras Pemerintah (CBP), tentu saja dengan memperhatikan kualitas dan SOP yang berlaku. Saya kira kualitas beras petani kita ini cukup baik dan mampu memenuhi kriteria persyaratan pengadaan yang ditetapkan oleh Bulog.

Masih menurut Shofix, Bulog memang menghadapi dilema, artinya Bulog menjadi garda terdepan penyerapan hasil pertanian akan tetapi tidak mempunyai kanal penyaluran berasnya.Jadi insan Bulog ini berfikir, nyerap banyak – banyak berasnya mau dikemanakan?.

“Kita ketahui bersama sekarang program Raskin/Rastra sudah tidak ada. Program Sembako BPNT pun tidak murni penugasan nya ke Bulog. Oleh karena itu perlu adanya sinergitas antara Pemda dan Bulog untuk menyerap hasil petani dan memikirkan output dari hasil penyerapan beras tersebut, apakah disalurkan untuk program Beras ASN, Bantuan Beras Daerah, atau untuk TNI/Polri di wilayah masing-masing,” pungkasnya. (Ril SMSI)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *