Dikabarkan Positif Covid-19, Kematian Sipemilik Sate Senen Betung Masih Dianggap Simpang Siur, Ini Jawaban Pihak RSI Siti Khodijah Palembang

  • Bagikan

Palembang, Meteorsumatera

Terkait pemberitaan kematian pasien covid-19 atas Senen, 60 tahunn sempat dirawat di RSI Siti Khadijah Palembang masih dianggap keluarga Pemilik Senen Sate Betung itu simpang siur dan belum adanya jawaban yang memuaskan hati keluarga korban. Kemudian diminta konfirmasinya begini jawaban pihak RSI Siti Khadijah Palembang memberikan klarifikasi melalui Humasnya Liti bahwa pihak RS sudah melaksanakan sebagaimana sesuai prosedur medis.

Dijelaskan Liti, pasien atas nama bapak Senen itu diakui telah menderita penyakit komplikasi sejak 16 tahun lebih, setelah memdapat perawatan medis dirumah sakit ini dan dirawat inap beberapa waktu di rumah sakit ini atau sekitar 15 hari, kemudian dilakukan repidtes dinyatakan terpapar covid-19, lalu pasien tersebut dipindah ke ruangan isolasi Musdalifah.

Ketika itu lanjut Liti, pihak keluarga sudah diberitahu bahkan masih ada yang mengirim pakaian pasien dan selanjutnya pihak kekuarga pasien yang melakukan kontak langsung diminta melakukan isolasi semua dan seharusnya dari pihak pasien ikut memantau selama pasien itu dirawat seklipun dinyatakan pasien covid-19 namun pihak keluarga pasien tidak boleh mendampingi seperti pasien biasa pihak rumah sakit telah menyediakan tempat tersendiri, katanya.

Masih kata Liti, setelah pasien atas nama bapak Senen itu dirawat diruang isolasi covid beberapa waktu kemudian tepatnya 21 Juni 2020 sekira pukul 13.19 Wib pasien itu dinyatakan telah meninggal dunia, karena pihak keluarga tidak ada yang mendampingi pasien, maka pihak rumah sakit ini memberitahu pihak keluarga melalui petugas kami memberi kabar via WhatsApp Ibu Evi kepada anaknya atas nama Suci Rahayu yang pada intinya memberitahu bahwa bapak Senen telah meninggal dunia.

Yang didampingi dr. Dewi selaku Ketua dan ibu Evi selaku Perawat Gugus Tugas Covid, Liti menjelaskan sesuai aturan untuk Pasien Covid tidak boleh lebih 4 jam sejak dinyatakan meninggal itu harus segera dimakamkan, sambung dr. Dewi dan proses serta proses termasuk lokasi pemakamanya pun di TPU Khusus covid di Gandus Kodya Palembang sudah dikonfirmasikan kepihak keluarga pasien via WhatsApp, timpal ibu Evi.

Liti menambahkan, surat kematian dan penguburan atas naman pasien itu belum diserahkan kepihak keluarganya tidak ada yang mendampingi bahkan nomor kontak yang ada dari mereka (keluarga pasien,red) tidak bisa dihubungi lagi, maka baru kita berikan pada tanggal 10 Juni 2020 termasuk surat pemakamanya pun sudah kami kirimkan via WhatsApp ibu Evi kembali kepada nomor WhatsApp atas nama Bambang anak pasien pada tanggal 11 Juni 2020, jelasnya kepada media ini, Kamis 18 Juni 2020.

“Untuk surat penguburan sudah dikasihkan ke-anaknya, tapi untuk hasil tes tak bisa diberikan pak, karena hasil yang kita terima kolektif seluruh nama pasien yang di periksa swab dan hasil itu hanya bisa diserahkan kepada ahli warisnya, karena itu aturan juga rahasia negara, kecuali ada surat kuasa dari pihak ahli waris jika orang lain yang mengambil”, tegas dr. Dewi selaku Ketua gugus covid di RSI Siti Khadijah sekaligus menyudahi perbicangan saat itu.

Berita sebelumya – Kabar kematian Senen warga asal Kelurahan dan Kecamatan Betung Kabupaten Banyuasin sebagai pasien di Rumah Sakit Siti Khadijah Palembang Sumatera Selatan setelah dirawat inap lebih 20 hari yang akhirnya divonis oleh pihak medis di RS tersebut bahwa sebagai pasien positif covid-19, tak lama ditetapkan covid, kemudian Senen dikabarkan meninggal dunia yang secara fakta kedua anaknya termasuk pihak keluarga lainya hingga hampir satu bulan ini belum dapat keterangan secara resmi dari rumah sakit sehingga tak ada yang tau proses kematian dan penguburan orang tua kami.

Kabar kematian ayah hingga saat ini kami sebagai anak kandung, semua keluarga dan kerabat di Betung Banyuasin mengaku tidak sama sekali mengetahui persis peristiwa kematianya, sebab dari pihak Rumah Sakit tempat dirawat tidak memberikan informasi secara resmi dan kabar kematian itu hanya dapat dari medsos WA dan FB yang viral dan pihak Rumah Sakit yang ada nomor kontak dikonfirmasi ketika itu hingga saat ini pun tidak ada balasanya, ucap Bambang saat dijumpai wartawan media ini dikediamanya beberapa sat yang lalu.

“Itulah pak kami sebagai anak kandung sampai saat ini belum ada kabar secara resmi dari rumah sakit tempat ayah dirawat jika ayah itu telah meninggal dunia, sebab setelah lebih 20 hari dirawat inap dan divonis covid oleh pihak medis dirumah sakit itu, kami diminta melakukan isolasi mendiri, sehingga ayah seorang diri dirawat inap dan seterusnya perkembangan kondisi ayah tidak ada yang tau dan sepekan kami menjalani isolasi mandiri dirumah dapat kabar bahwa ayah meninggal dunia, tapi kabar itu bukan resmi dari Rumah Sakit melainkan dari WA dan FB saja”, ungkapnya sedih.

Masih kata Bambang, ayah saya itu sebelum divonis covid, sudah menderita sakit komplikasi berat dan kena struk sudah lebih 15 tahun dan sebelum dikabarkan meninggal dunia pun, ayah saya itu sempat dirawat inap di klinik Kadir Betung lebih satu pekan, tidak ada perubahan bahkan lebih parah sakitnya, lalu kami sepakat dirujuk di RSI Siti Khadijah itu dan sekira 15 hari dirawat inap disana oleh tim medis ayah saya divovis Covid, lalu kami semua yang selama ini diminta mrlakukan isolasi kesehatan mandiri dirumah dan sejak itu ayah kami tidak ditunggu dan diawasi oleh kami, kecuali dari pihak medis di RS itu sendiri.

Setelah kami menjalani isolasi dirumah, sepekan kemudian atau kurang lebih satu minggu dikabarkan ayah kami telah meninggal dunia dan informasi kami dapat mulanya dari salah seorang petugas kesehatan dirumah sakit tempat ayah dirawat dan kabar dari medsos Facebook dan WhatsApp, tetapi secara resmi dari pihak Rumah Sakit belum ada, padahal sudah viral bahwa ayah meninggal dunia bahkan itu hingga detik hari ini 9 Juni 2020 kami belum mengetahui sesungguhnya ayah itu telah meninggal dunia apa belum itu tidak jelas.

Jadi informasi keberadaan ayah kami hingga saat ini masih membinggungkan, seandainya ayah saya itu telah meninggal dunia, memang kami sekeluarga sudah mengiklaskan, tapi bila ada kejelasan pasti dari rumah sakit. seyogiyanya ada surat resmi dari Rumah Sakit itu, entah langkah apa selanjutnya nanti, sebab sampai hari ini tidak ada kabar jadi info kematian ayahnya terus terang saja masih simpang siur dan maksud kami sebagai putra kandungnya, tentu wajib mengetahui kejadian yang sesungguhnya dari RS, karena kami harus tau itu.

Lanjut Bambang, jika diberitau secara resmi bahwa ayah telah meninggal dunia itu sebenarnya kapan dan tanggal, jam berapa, karena kami butuh surat kematian secara resmi dan jika sudah dimakamkan pun kami butuh surat keterangan penguburanya, surat kematian dan penguburan itu untuk mengurus penerbitan keterangan akte kematian, tentu surat itu dibutuhkan oleh kami Ahli Waris, ungkapnya.

Terus Bambang, jadi kami ini untuk mendapatkan surat kematian dan penguburan ayah itu dimana, kalau pihak rumah sakit Siti Khadijah tempat ayah dirawat tidak mau mengeluarkanya, karena ampai sekarang juga tidak memberikabar secara resmi itu namanyakan amburadul jadinya pelayanan pasien covid dirumah saki itu, kami ada niat memang untuk melakukan gugatan sebab sudah hampir satu bulan keberadaan jasad orang tua kami tidak da kejelasan dari pihak Rumah Sakit Siti Khadijah.

Dan mirisnya lagi lanjut Bambang, nomor kontak dari pihak rumah sakit tidak ada lagi yang dapat dihubunginya, jadi ayah itu telah meninggal dunia benaran atau sekedar isu saja, belum mendapat kabar secara resmi dari tempat ayah dirawat dan ketika itu ayah divonis positif covid, kami dan rekan-rekan yang ikut langsung mendampingi selama ayah dirawat, oleh tim medis dari rumah sakit itu kami semua diminta untuk melakukan isolasi secara mandiri dirumah dan ayahnya tidak ada lagi yang menunggu dan mengawasi hingga dikabarkan telah meninggal dunia tak seorang dari pihak pasien yang mengetahuinya. (Waluyo)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *