Jeritan Hati Wartawan Dilapangan

  • Bagikan
Penulis Yulianto

Lampura, Meteorsumatera

Seperti untaian kata dan pepatah bagi oknum pewarta “DI TELAN PAHIT DI BUANG SAYANG” begitulah lika – liku dan suka duka perjalanan seorang wartawan ketika menjalankan tugasnya sebagai control cosial, mencari dan memuat suatu tulisan hasil liputannya di lapangan. Tetapi mengapa ketika wartawan mengemas tulisan menjadi satu berita dan menyampaikan suatu kebenaran kepada seluruh insan wartawan selalu di salahkan dan wartawan selalu menjadi korban demi pencapaian suatu kekuasaan,  Selasa 14 April 2020.

Wahai engkau bapak penguasa negeri, pemilik kebijakan di bumi pertiwi mengapa engkau hanya diam melihat dan menyaksikan kesewenang – wenangan yang di lakukan oleh para petinggimu, bukankah engkau di pilih untuk menjadi tuntunan cahaya kebenaran bagi rakyatmu, lantang suaramu mengatakan bahwa musnahkan kesewenang – wenangan dari rakus dan serakahnya para penguasa yang menggerogoti kekayaan negeri demi untuk memperkaya diri sendiri.

Wahai engkau bapak penguasa negeri, tolong lihat dan fikirkan nasib kami para wartawan yang selalu di kebiri oleh para petinggimu, padahal kami hadir di tengah – tengah negeri ibu pertiwi, kami selalu siap untuk berbagi demi kebaikan dan kemanjuan bangsa ini. Tetapi mengapa ketika kami melakukan tugas kami selaku wartawan penyambung aspirasi untuk kemajuan negeri ibu pertiwi kami selalu di salahkan, tidak jarang kami mendapatkan ancaman, tudingan, pelecehan terhadap profesi kami sebagai wartawan sampai ke tindak kekerasan hingga berakibat fatal, apa salah dan dosa kami ketika kami menyampaikan kebenaran demi untuk kemajuan anak negeri, dan demi kemajuan bangsa ini, wahai penguasa negeri, tolong dengarkan rintihan kami para wartawan.

Masih terngiang jelas di telinga kami, dan masih melekat dalam ingatan kami pada tahun 2015 lima tahun lalu, ketika engkau berkomitmen melanjutkan pembanguan bangsa ini melalui program desa mandiri memperkuat ekonomi desa. Program Dana Desa (DD) guna pembangunan desa agar desa bisa setara dengan desa maju dan mandiri sehingga rakyat bangsa ini sejahtera, programmu sangat luar biasa wahai bapak penguasa negeri, serapan dana desa begitu terasa bagi rakyat desa di negara kita Republik Indonesia.

Tetapi perlu engkau ketahui wahai bapak kami, di balik kesuksesanmu menggerakan roda pembangunan bangsa ini di mulai dari pinggiran desa, ternyata masih banyak para petingi – petinggimu yang mengangkangi peraturan dan kebijakan yang telah engkau tetapkan, terutama panglima terdepanmu yaitu para oknum kepala desa.

Seperti yang terjadi di salah satu desa di kecamatan abung selatan, kabupaten lampung utara, provinsi lampung, tepatnya di desa abung jayo. Program pembangunan desa, di desa abung jayo yang engkau prioritaskan bapaku meninggalkan satu kesan buruk, hal tersebut di sebabkan karena ulah oknum kepala desa yang arogansi wahai bapaku.

Singkat kata dan singkat cerita wahai pemilik kuasa negeri ibu pertiwi, pada hari Senin 13 April 2020 kemarin lima oknum wartawan saudara seprofesi kami melakukan control cosial hasil pembangunan infrastruktur fisik dan non fisik dari anggaran dana desa tahun anggaran 2018- 2019 di desa abung jayo yang di sinyalir tidak sesuai dengan besaran anggaran yang engkau gelontorkan.

Tetapi ketika lima oknum wartawan tersebut mencoba menanyakan sejauh mana serapan dan mamfaat yang di rasakan masyarakat terhadap hasil pembangunan kepada oknum kepala desa abung jayo mulyadi, oknum kepala desa tersebut sontak marah, mencaci maki, mengancam hingga mengeluarkan bahasa ” BINATANG ” yang tidak sepantasnya di lontarkan oleh seorang pejabat publik atau seorangoknum  kepala desa yang semestinya tutur bahasa dan penyampainya penuh dengan ajakan kebaikan atau pentuah dan arahan.

Atas peristiwa yang di alami lima oknum wartawan saudara seprofesi kami. Sedikit yang ingin kami tanyakan kepada bapak wahai penguasa negeri, ” Dimanakah letak dan kekuatan peraturan dan kebijakan serta keutuhan undang – undang pers No 40 tahun 1999, kami mohon agar engkau dapat memberi bimbingan kepada kami wahai bapak penguasa negeri.
Penulis (Yulianto)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *