Bupati Banyuasin Kembali Bangkitkan Adat Ningkuk

  • Bagikan

Banyuasin, Meteorsumatera – Berawal dari perningkahan Bupati Banyuasin H, Askolani SH. MH dengan dr Sri Fitrianti, kembalikan adat dan budaya dimasa remajanya dulu dengan mengadakan Ningkuk’an mengajak kepada seluruh generasi remaja dalan wilayah Kabupaten Banyuasin untuk turut serta melestarikanya.

Acara Ningkuk’an tersebut sengaja diselenggarakan pada Rabu malam yang lalu di Pendopoan Rumah Dinas Bupati Banyuasin dalam rangkaian kegiatan menyambut acara resepsi ngunduh mantu yang digelar pada Sabtu (6/7/2019).

Terlihat hadir menyaksikan acara Ningkuk’an itu ada Wakil Bupati Banyuasin H. Slamat Somosentono SH, Sekda Kabupaten Banyuasin HM Yusuf, Dandim 0430/Banyuasin, Kapolres Banyuasin, para Asisten, para OPD, Tokoh Masyarakat Banyuasin.

Menurut Askokani Ningkuk’an baik dan bagus untuk dilestarikan karena ini bagian dari bidaya kita. “Ningkuk’an ini wajib dilestarikan sehingga tidak sirna dimakan zaman, “ katanya.

Selain acara Ningkuk’an, juga ada pentas seni musik Serambe dan Kromongan, yang merupakan bagian dari Asli Budaya Wong Bumi Sedulang Setudung saat ini hampir sirna dan sudah jarang kita temukan  dizaman  modern  ini. 

Untuk itu kata Bupati, ningkuk’an untuk remaja putra dan putri ini berawal dari sahabat atau teman calon mempelai yang menikah. Remaja putra dan putri ini dimulai calon pengantin dihadirkan sebagai Raja dan Ratu, lalu acara Ningkuk’an ini ditunjuk seseorang sebagai pemimpin alias tukang Pos alias pengantar pesan.

Bupati memberkan, jalanya Ningkuk’an bahwa kelompok remaja putra dan putri  dipisah dan saling berhadapan-hadapan, sedangkan pemimpin alias pal Pos, Raja dan Ratu berada ditengah-tengah peserta Ningkuk’an, semua remaja putra dan putri yang ikut Ningkuk An ini berada dalam pengawasan Raja dan Ratu.

Sebelum acara Ningkuk’an ini dimulai pimpinan alias pak Pos memberikan penjelasan bagaimana cara mainnya dan aturannya dan aturan ini harus dipatuhi seluruh yang ikut main Ningkuk’an tersebut.

Cara main Ningkuk’an menggunakan dua selendang yang diputar pada remaja putra dan putri dengan iringan musik.

Selama musik diputar, selendang tetap berputar dari remaja putra ke remaja putri dan sebaliknyan,  jika musik berhenti dan selendang itu jatuh ketangan salah satu remaja putra dan putri akan mendapatkan hukuman dari Raja dan Ratu seperti bernyanyi,  berjoget dan berbalas pantun.

Uniknya dari acara Ningkuk’an ini, untuk remaja putra diberikan kesempatan untuk menyampaikan isi hati (curhat) terhadap seorang remaja putri yang dia sukai yang ditulis untuk dikirimkan/disampaikan kepada remaja putri yang disenangi lewat pak Pos,  sebaliknya bisa juga dari remaja putri kepada remaja putra yang disenangi.

Tidak jarang melalui acara Ningkuk’an tersebut para remaja putra dan putri menjalin komunikasi hingga berpacaran bahkan berlanjut  sampai ke pelaminan atau pernikahan juga.(waluyo)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *