PT Petro Muba Disinyalir Tampung Minyak Dari Luar

  • Bagikan

Muba, Meteorsumatera – Petro Muba merupakan perusahaan milik daerah, PT Petro Muba ini telah lama berdiri semenjak H Alex Noerdin menjadi Bupati Musi Banyuasin (Muba) gedungnya yang terletak diantara Kelurahan Babat dan Mangun Jaya kini telah rusak parah entah dimana fasilitas perusahaan yang telah menghabiskan uang rakyat itu sekarang.

Nah, semenjak Muba dipimpin oleh H Dodi Alex Noerdin tanggal 19 Desember 2018 lalu, Station Storage dan station setling oleh PT Petro Muba yang beralamat di jalan poros sekayu – lubuk linggau Km. 165 Kecamatan Babat Toman Muba tepatnya di Kel. Mangun Jaya yang diresmikan langsung oleh Gubernur Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) H Herman Deru, diresmikannya perusahaan minyak ini warga yang menggantungkan rezeki dari minyak ini berharap dibukanya tempat penampungan ini akan mempermudah bisnis ini.

Namun patut diduga sudah beralih fungsi yang semula untuk penampungan sementara minyak mentah dan transportasi minyak mentah sumur tua di Kelurahan Babat Toman, Kecamatan Babat Toman, Musi Banyuasin.

Berbeda dengan fungsi saat ini, diduga minyak yang ditampung oleh stasiun penampungan minyak mentah dari sumur tua di kelurahan babat toman ini hanya bisa menampung minyak illegal yang berasal dari luar daerah yakni minyak mentah illegal yang didatangkan dari Provinsi Jambi.

Dari hasil pantauan tim investigasi yang tergabung dari beberapa awak media yang bertugas di wilayah kab. Muba sabtu, 18 mei 2019 dilokasi Station Storage dan station setling oleh PT Petro Muba, tim menemukan adanya beberapa kendaraan dam truk yang sedang memuntahkan minyak dilokasi.

Sedangkan dari beberapa sumber dilapangan bahwasanya pelaku pengeboran dan pengelola minyak mentah dari sumur tua di kelurahan babat toman yang pada umumnya menggunakan kendaraan pick up tidak menjual minyak mentah kepada pihak petro muba dikarenakan harga yang ditetapkan oleh pihak petro tidak sesuai dengan harga yang diinginkan masyarakat pengelola minyak mentah.

“Kami tida menjual minyak kepada pihak petro muba, harga mereka tidak sesuai dengan harga yang biasa kami jual sebelumnya kepada pihak lain”. Ujar An. (nama disamarkan) dan beberapa rekannya. Sabtu, (18/05)
Dikatakannya “Harga beli yang diterima oleh Petro Muba berkisar dua ribu delapan ratus rupiah (2.800,-)/liter dengan kapsitas 120 liter/drum sehingga didapatkan nominal 588.000,-, sedangkan harga jual kami pada umumnya berkisar tujuh ratus ribu rupiah (700.000,-)/drum dari pengeboran”.

“Kalau kami jual ke petro muba kami rugi, jadi kami memilih tidak menjual ke petro muba”.

Lanjutnya “Karena rata-rata pengelola minyak sumur diwilayah kel. babat toman tidak menjual minyak mentah ke stasiun petro muba maka kebutuhan stasuin penampungan minyak mentah diduga tidak terpenuhi, maka untuk memenuhi syarat standar kebutuhan perusahaan dari 18 tanki yang terdiri dari 9 tanki settling dan 9 tanki storage dengan masing-masing kapasitas tanki 40 kiloliter (kl) kami menduga bahwa stasiun penampungan minyak mentah ini menampung minyak illegal yang berasal dari luar daerah, salah satunya minyak yang didatangkan dari daerah jambi yang masuk ke Station Storage dan station setling oleh PT Petro Muba,)”. Ungkapnya.

Pada saat peresmian Station Storage dan station setling oleh PT Petro Muba Dikatakan H Herman Deru bahwa dengan adanya stasiun penampungan minyak mentah Petro Muba adalah ide positif “Ini terobosan yang bagus, jadi masyarakat tidak lagi menambang illegal, bagi Kabupaten ini tentu dampaknya bagus karena bisa menambah PAD.
Dengan adanya stasiun ini HD menargetkan Petro Muba dapat menekan penjualan minyak ilegal ke luar Sumsel.

“Petro Muba harus membeli minyak warga dengan harga yang bersaing. Kalau tidak mereka bisa saja lari menjual keluar minyak ini karena ada harga yang lebih menarik”. Ujar H Herman Deru. Tutupnya.(Tim)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *