Banyuasin Breaking News hukum & kriminal

Devi Agustian Mempertanyakan Proses Pengadilan Pasal 170 dan 351 di PN Banyuasin Terhadap Laporannya

Banyuasin, Meteorsmatera

Saat saya melaporkan perkara penganiayaan dan pengeroyokan yang dilakukan tersangka pelaku “W” dan ibunya pada bulan Februari 2020 lalu kondisi saya sedang hamil muda dan saat ini saya tinggal menunggu kelahiran anak ketiganya, namun proses hukum sudah tiba di pusat Pengadilan Negeri Banyuasin saya anggap semakin kurang jelas dari perkara saya hadapi, ucap Devi Agustian bersama suaminya Juwarno saat berbincang dengan wartawan media ini, Senin 10 Agustus 2020.

Dikatakan Devi, memang saya ini buta hukum, tapi sebagai korban sepertinya laporan perkara saya dianggap sepele, saya melapor kepolisi tanggal 28 Februari 2020 dan ketika itu saya dalam kondisi hamil muda dan saat ini telah dekat masa kelahiran anak saya yang ketiga, tetapi proses hukum dari perkara yang saya laporkan ke Mapolres Banyuasin dan dilimpahkan ke Jaksa dan kini memasuki persidangan di Pengadilan Negeri Banyuasin justru semakin kurang jelas.

Devi menambahkan, saya sudah berulang-ulang buat berita acara perkara dari laporan pertama ketika saya dikeroyok dan dianiaya oleh terlapor, namun berjalan waktu saya diminta buat berita acara lagi bahwa laporan pertama dianggap tidak cukup saksi, sehingga berubah pasal dari “pengeroyokan dan penganiayaan” berubah jadi perkara penganiayaan.

Berselangnya waktu tak lama saya dipanggil lagi oleh Kanit PPA Polres Banyuasin untuk diminta keteranganya lagi, jadi saya ini jadi bingung, apa karena orang deso dan tidak tau hukum jadi perkara yang menimpa saya prosesnya menjadi tidak jelas begini, lalu waktu itu tanyakan lagi bahwa kasus yang dihadapi sudah masuk ke Jaksa Negeri Banyuasin dan saya juga diminta hadir yang kebenaran juga hadir dari Bapas untuk memediasi agar kasus saya itu untuk damai dan saya tetap bersikeras minta lanjut perkaranya.

Masih kata Devi, akhir Juli 2020 lalu perkara yang saya hadapi sudah masuk ke Pengadilan Negeri Banyuasin dan saya diminta hadir dan oleh Hakim yang saya tidak tau namanya itu juga menanyakan masalah perkaranya dan saya tetap supaya dilanjutkan sampe kepersidangan, karena kejadian dilajukan oleh tersangka itu bukan yang pertama kali.

Karena sudah menyangkut penganiayaan bahkan bersama orang tuanya, maka saya minta perkara ini sampai disidangkan, kalau sekedar omongan yang diserangkan kepada saya dan keluarga cukup sampai diperangkat desa selesai, tetapi karena sudah menyangkut fisik dan saya dalam kondisi berbadan dua, maka perkaranya supaya diterapkan sesuai pasal yang dijeratkan kepada tersangkanya.

“Yang Devi pertanyakan setelah saya hadir dalam sidang pertama akhir Juli 2020 lalu sampai sekarang tidak ada kejelasanya dan tersangkanya kok malah melenggang bebas, jadi pasal 170 dan 351 yang dijeratkan kepada tersangka apa tidak berlaku lagi. Padahal yang saya baca dari Google dua pasal itu ancaman kurungan penjara 5 tahun dan 2,6 tahun tetapi mengapa tersangkanya sampai saat ini masih berkeliaran, bahkan katanya persidangan sudah putus”, tanyanya heran sekaligus menutup perbincanganya.

Terpisah Kejari Banyuasin saat dikonfirmasi melalui JPU Ronal ketika itu membenarkan perkara tersangka W sudah masuk dan menunggu jadwal persidangan di PN Banyuasin dan sejauh mana proses tuntutan hukumnya sejak diselenggarakan proses persidangan dikonfirmasi lagi sampai berita ini tidak ada jawabanya.

Sementara, pihak Hakim yang menggelar sidang perkara tersangka W-pun hingga di Pengadilan Negeri Banyuasin pun sampai saat ini berita ditayangkan belum diminta konfirmasinya termasuk pihak tersangkanya. (waluyo).